Belimbing Wuluh dan
Manfaatnya
1. Ciri-Ciri Belimbing Wuluh
KEANEKARAGAMAN tumbuhan yang dimiliki Indonesia merupakan
salah satu nikmat yang diberikan Sang Pencipta alam semesta. Karena itu kita
patut bersyukur dan
memanfaatkannya dengan baik.
Banyak manfaat yang bisa kita
dapatkan dari tumbuh-tumbuhan. Yang paling umum adalah langsung dimakan (khusunya untuk buah), sebagai bahan
masakan sehari-hari, sebagai bumbu, bahan obat, dan sebagainya.
Salah satu tanaman yang banyak tumbuh di pekarangan dan
dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia
dalam kehidupan sehari-hari adalah belimbing (averrhoa billimbi L). Meskipun
belum dibudi-dayakan secara khusus tanaman ini terdapat dimana-mana, baik karena sengaja ditanam di pekarangan
rumah maupun tumbuh secara liar di ladang dan hutan.
Belimbing wuluh,
disebut juga belimbing buluh atau belimbing asam adalah sejenis pohon yang
diperkirakan berasal dari Kepulauan Maluku. Tanaman ini tumbuh dengan subur di
Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Myanmar, dan Malaysia.
Belimbing wuluh
mendapatkan tempat khusus di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, baik dalam hal
budidaya maupun pemanfaatannya. Kelebihan tanaman ini adalah termasuk salah
satu jenis tanaman tropis yang dapat berbuah sepanjang tahun (Amnur, 2008).
Tananaman yang
disebut juga sebagai belimbing sayur itu merupakan tumbuhan yang hidup pada
ke-tinggian 5 hingga 500 meter diatas permukaan laut. Tanaman ini mudah sekali
tumbuh dan berkembang-biak melalui cangkok atau persemaian biji. Jika ditanam
lewat biji, pada usia 3-4 tahun sudah mulai berbuah. Jumlah setahunnya bisa
mencapai 1.500 buah. Buahnya berbentuk lonjong. Bila masih muda, warna buahnya
hijau, jika sudah matang berwarna kekuningan kusam mengandung banyak air dan
rasa-nya asam segar.
Pohon belimbing bisa
tumbuh dengan ketinggian mencapai 5-10 meter. Batang utamanya pendek dan
cabangnya rendah. Batangnya bergelombang (tidak rata). Daunnya majemuk,
berselang-seling, panjang 30-60 cm dan berkelompok di ujung cabang. Pada setiap
daun terdapat 11 sampai 37 anak daun yang berselang-seling atau setengah
berpasangan. Anak daun berbentuk oval.
Buahnya yang
memiliki rasa asam sering diguna-kan sebagai bumbu masakan dan campuran ramuan
jamu. Bunganya kecil, muncul langsung dari batang dengan tangkai bunga berambut.
Mahkota bunga biasanya berjumlah lima, berwarna putih, kuning
Buah belimbing wuluh
berbentuk elips hingga seperti torpedo, dengan panjang 4-10 cm. Warna buah
ketika muda hijau, dengan sisa kelopak bunga menempel di ujungnya. Jika masak
buahnya berwarna kuning atau kuning pucat. Daging buahnya berair dan sangat
asam (bervariasi hingga manis sebetulnya). Kulit buah berkilap dan tipis.
Bijinya kecil (6 mm), berbentuk pipih, dan berwarna coklat, serta tertutup
lendir.
Daunnya tipis. Di
daerah Sulawesi Selatan, khu-susnya Kabupaten Soppeng, daun ini dipercaya
seba-gai obat untuk kulit gatal dan menghilangkan bekas jerawat atau cacar.
Penggunaannya dilakukan dengan cara menggosokkan ke kulit yang dikehendaki
setiap selesai mandi.
Setiap daerah
memiliki nama sendiri untuk buah belimbing wuluh ini, beberapa tersebut adalah
ini. Rinciannya
seperti di bawah ini:
Bugis Soppeng:
caleneng
Aceh: limeng
ungkot, selimeng
Gayo: selemeng
Batak: asom,
belimbing, balimbingan
Nias: malimbi
Minangkabau:
balimbieng
Melayu: belimbing
asam
Lampung:
balimbing
Sunda: calincing,
balingbing
Jawa: blimbing
wuluh
Madura:
bhalingbhing bulu
Bali: blingbing
buloh
Bima: limbi
Flores: balimbeng
Sawu: libi
Sangir: belerang
Banjarmasin:
belimbing tunjuk
Makassar: bainang
Komentar
Posting Komentar